Antiokhus IV Epifanes adalah seorang raja dari Dinasti Seleukid yang memerintah dari tahun 175 hingga 164 SM. Ia terkenal dalam sejarah sebagai penguasa yang berusaha menghelenisasi wilayah kekuasaannya, terutama Yudea, dan tindakannya terhadap bangsa Yahudi menyebabkan Pemberontakan Makabe.
Latar Belakang dan Pemerintahan:
Nama dan Gelar:
Ia mengambil gelar Epifanes yang berarti “Yang Menampakkan Diri sebagai Tuhan,” mencerminkan ambisinya untuk dipandang sebagai dewa dalam tradisi Hellenistik.
Dasar Helenisasi:
Antiokhus IV berusaha memaksakan budaya Yunani (Hellenisme) di seluruh kerajaannya, termasuk Yudea. Ia menggantikan imam besar Yahudi dengan mereka yang mendukung kebijakan Helenisasi.
Penindasan terhadap Yahudi:
Pada tahun 167 SM, ia melarang praktik keagamaan Yahudi, menghancurkan kitab suci, dan mendirikan altar bagi Zeus di dalam Bait Suci Yerusalem, suatu tindakan yang dianggap sebagai Kekejian yang Membinasakan (Daniel 11:31).
Pemberontakan Makabe:
Kebijakannya memicu perlawanan dari kaum Yahudi yang dipimpin oleh Yudas Makabe dan saudara-saudaranya, yang akhirnya berhasil merebut kembali Yerusalem dan membersihkan Bait Suci pada tahun 164 SM, yang dirayakan dalam perayaan Hanukkah.
Akhir Hidup:
Antiokhus IV meninggal pada tahun 164 SM dalam kondisi yang menyayat hati, kemungkinan akibat penyakit atau gangguan mental, setelah mengalami serangkaian kekalahan dalam perang melawan Persia.
Peninggalan dan Pengaruh:
Ia dikenal dalam sejarah Yahudi sebagai salah satu tokoh yang paling menindas umat Israel.
Peristiwa di bawah pemerintahannya disebut dalam kitab Daniel 8 dan 11, serta dalam kitab-kitab 1 & 2 Makabe.
Tindakannya terhadap Bait Suci menjadi pemicu utama konflik yang membentuk identitas nasional Yahudi dalam periode selanjutnya.
Antiokhus IV Epifanes adalah contoh penguasa yang berusaha memaksakan asimilasi budaya, tetapi justru memicu perlawanan yang menguatkan identitas agama dan nasional suatu bangsa.
Discover more from SIB Donggongon
Subscribe to get the latest posts sent to your email.