Kitab-kitab Deuterokanonika tidak diterima oleh gereja Protestan kerana beberapa sebab utama, termasuk sejarah kanonik, doktrin, dan pandangan terhadap teks asli Perjanjian Lama. Berikut adalah penjelasan utama mengapa kitab-kitab ini ditolak oleh Protestan:
1. Perbezaan Kanon dalam Tradisi Yahudi dan Kristian:
Kitab-kitab Deuterokanonika (seperti Tobit, Yudit, Kebijaksanaan, Yesus bin Sirakh, Barukh, 1 & 2 Makabe, dan tambahan dalam Daniel dan Ester) termasuk dalam Septuaginta (LXX), iaitu terjemahan Yunani Perjanjian Lama yang digunakan oleh banyak orang Yahudi pada zaman Yesus. Namun, kanon Ibrani yang dikodifikasikan oleh Rabi Yahudi sekitar abad ke-1 M (kanon Tanakh) tidak memasukkan kitab-kitab ini.
Protestan berpegang kepada kanon Yahudi Ibrani, yang hanya memiliki 39 kitab Perjanjian Lama.
2. Ditolak oleh Reformasi Protestan:
Martin Luther dan para reformator Protestan menolak kitab-kitab Deuterokanonika kerana kitab-kitab ini tidak termasuk dalam kanon Yahudi dan dianggap tidak memiliki otoritas inspirasi seperti kitab-kitab lain dalam Perjanjian Lama.
Luther menganggap kitab-kitab ini berguna untuk dibaca, tetapi bukan sebagai kitab suci yang diilhamkan oleh Tuhan. Oleh itu, Protestan hanya menerima 66 kitab dalam Alkitab (39 Perjanjian Lama + 27 Perjanjian Baru).
3. Isu Doktrinal dalam Kitab Deuterokanonika:
Beberapa ajaran dalam kitab-kitab Deuterokanonika bertentangan dengan doktrin Protestan, seperti: 2 Makabe 12:45-46 – Mengajarkan doa bagi orang mati, yang menjadi dasar bagi doktrin api penyucian (purgatory) dalam Gereja Katolik.
Protestan menolak konsep ini kerana tidak ditemukan dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Baru. Tobit 12:9 – Mengajarkan bahawa sedekah dapat menghapus dosa, yang bertentangan dengan ajaran Protestan tentang keselamatan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus (sola fide).
4. Tidak Dikutip Secara Langsung dalam Perjanjian Baru:
Salah satu alasan lain adalah bahawa Yesus dan para rasul tidak pernah secara langsung mengutip kitab-kitab Deuterokanonika dalam Perjanjian Baru sebagai “Firman Tuhan”, walaupun mereka sering mengutip dari Perjanjian Lama lainnya.
5. Pandangan Katolik dan Ortodoks:
Berbeza dengan Gereja Katolik menerima kitab-kitab Deuterokanonika sebagai bagian dari Alkitab setelah Konsili Trent (1546), sebagai respons terhadap Reformasi Protestan.
Gereja Ortodoks juga menerima kitab-kitab ini, bahkan dengan beberapa tambahan seperti 3 & 4 Ezra dan Doa Manasye.
Kesimpulan Kitab-kitab:
Deuterokanonika tidak diterima oleh gereja Protestan kerana mereka berpegang kepada kanon Yahudi Ibrani, melihat kitab-kitab ini tidak diilhami secara ilahi, serta menolak ajaran-ajaran yang bertentangan dengan doktrin utama.
Protestan seperti sola scriptura (hanya Kitab Suci sebagai otoritas utama) dan sola fide (hanya iman yang menyelamatkan). Namun, kitab-kitab ini masih dianggap bermanfaat untuk bacaan sejarah dan moral, walaupun bukan sebagai bagian dari kanon Protestan.
Discover more from SIB Donggongon
Subscribe to get the latest posts sent to your email.