Etika dalam berkhotbah mencerminkan sikap, perilaku, dan prinsip yang harus dimiliki oleh seorang pengkhotbah agar penyampaian firman Tuhan tetap benar, berwibawa, dan membangun jemaat.
Berikut adalah beberapa etika penting dalam berkhotbah:
1. Etika terhadap Firman Tuhan
Kesetiaan pada Alkitab – Khotbah harus berakar pada firman Tuhan, bukan pada pendapat pribadi atau spekulasi yang tidak memiliki dasar alkitabiah.
Menafsirkan dengan Benar – Menggunakan metode hermeneutika yang tepat agar pesan Alkitab tidak disalahgunakan atau dimanipulasi.
Tidak Menambah atau Mengurangi Firman – Menghindari interpretasi yang berlebihan atau menyesuaikan firman Tuhan demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
2. Etika terhadap Jemaat
Menghormati Jemaat – Berbicara dengan sikap hormat tanpa merendahkan, menyindir, atau menyakiti perasaan jemaat.
Memberikan Pesan yang Membangun – Khotbah harus membangun iman dan karakter jemaat, bukan sekadar memberikan hiburan atau membuat mereka merasa bersalah tanpa solusi rohani.
Bahasa yang Jelas dan Mudah Dipahami – Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman jemaat agar pesan tersampaikan dengan baik.
3. Etika terhadap Diri Sendiri
Integritas dan Kehidupan yang Kudus – Seorang pengkhotbah harus hidup dalam kebenaran, karena kehidupan pribadi yang bertentangan dengan firman Tuhan akan mengurangi kredibilitas khotbahnya.
Rendah Hati – Menghindari sikap sombong atau merasa lebih rohani dari jemaat. Pengkhotbah adalah hamba, bukan penguasa atas jemaat.
Disiplin dan Persiapan yang Matang – Memastikan bahwa khotbah telah dipersiapkan dengan baik melalui doa, studi Alkitab, dan pemahaman yang mendalam.
4. Etika dalam Penyampaian Khotbah
Tidak Bertele-tele – Menyampaikan pesan dengan jelas, langsung pada inti, dan tidak berpanjang lebar hingga kehilangan fokus.
Berbicara dengan Nada yang Tepat – Menggunakan intonasi yang penuh wibawa namun tidak berlebihan atau dibuat-buat.
Tidak Menggurui atau Memaksakan Pendapat – Khotbah harus mengajak jemaat untuk bertumbuh, bukan sekadar memaksakan opini pribadi.
5. Etika terhadap Panggilan Pelayanan
Setia pada Panggilan Tuhan – Berkhotbah bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan pribadi, tetapi untuk kemuliaan Tuhan.
Berdoa dan Mengandalkan Roh Kudus – Mengutamakan pimpinan Roh Kudus agar khotbah memiliki kuasa untuk mengubahkan hati jemaat.
Terbuka untuk Koreksi dan Masukan – Bersedia menerima kritik dan saran demi pertumbuhan sebagai pelayan Tuhan.
Kesimpulan:
Etika dalam berkhotbah bukan hanya soal teknik berbicara, tetapi juga soal karakter, ketulusan, dan tanggung jawab seorang pengkhotbah terhadap firman Tuhan, jemaat, dan dirinya sendiri. Seorang pengkhotbah yang beretika akan menyampaikan firman Tuhan dengan penuh kasih, kebenaran, dan kuasa yang membawa dampak bagi kehidupan banyak orang.
Discover more from SIB Donggongon
Subscribe to get the latest posts sent to your email.