Kisah Para Rasul 1:14 (TB)
“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.”
- Konteks Ayat
Setelah Yesus naik ke sorga (Kisah 1:9–11), para murid kembali ke Yerusalem sebagaimana diperintahkan (Kisah 1:12–13).
Mereka menunggu janji Bapa, iaitu pencurahan Roh Kudus (Kisah 1:4–5, 8).
Selama masa menunggu itu, mereka tidak berdiam diri tetapi berdoa bersama dalam kesatuan.
Ayat ini menggambarkan suasana ruang atas (upper room) di mana 120 orang percaya bertekun dalam doa sebelum Pentakosta terjadi (Kisah 2).
- Uraian & Tafsiran
a) “Mereka semua bertekun…”
Bertekun bermaksud terus-menerus, setia, dan tekun tanpa putus asa.
Mereka tidak hanya berdoa sesekali, tetapi menjadikan doa sebagai gaya hidup.
Roma 12:12 – “Bertekunlah dalam doa.”
b) “…dengan sehati…”
Menunjukkan kesatuan rohani dan tujuan bersama. Mereka berdoa bukan dengan agenda peribadi, tetapi dengan satu visi – menantikan kuasa Roh Kudus dan peneguhan janji Yesus.
Kesatuan hati membuka jalan bagi kuasa Tuhan.
c) “…dalam doa bersama-sama…”
Doa ini bersifat doa bersama-sama, bukan hanya doa peribadi – inilah dikatakan Mobilisasi Doa – suatu gerakan doa bersama secara korporat dalam gereja, penglibatan semua jemaat, pemimpin, Wira, Wanita, PMM & PKK
Kekuatan gereja mula-mula lahir dari doa bersama, bukan dari jumlah, program, atau kemampuan manusia.
d) “…dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus…”
Ini menunjukkan bahawa doa melibatkan semua lapisan jemaat – lelaki dan wanita, tua dan muda dan semua jemaat
Doa menyatukan semua tanpa memandang kedudukan atau latar belakang.
Pengajaran Rohani Masa Kini
- Doa yang berkuasa lahir dari kesatuan hati.
Kesatuan adalah syarat penting bagi gerakan Roh Kudus. Tanpa kesatuan, doa kehilangan kuasanya.
“Bila dua atau tiga berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka.” (Mat. 18:20)
- Doa mesti dilakukan dengan ketekunan.
Mereka berdoa tanpa jemu sampai janji Tuhan digenapi. Sering kali, mujizat tidak terjadi kerana umat cepat menyerah dalam doa.
- Doa harus menjadi gaya hidup gereja.
Gereja mula-mula lahir dari doa, bukan dari strategi organisasi. Demikian juga, gereja masa kini hanya akan kuat bila kembali kepada kekuatan doa dan penyembahan.
- Doa menyatukan semua golongan.
Doa menyatukan murid, wanita, pemimpin, bahkan keluarga Yesus.
Dalam doa, tiada memandang hieraki dalam gereja – hanya umat Tuhan yang sehati mencari wajah-Nya.
- Doa membuka jalan bagi pencurahan Roh Kudus.
Hasil ketekunan dalam doa, Kisah 1:14 adalah peristiwa Pentakosta (Kisah 2:1–4).
Ketika gereja berdoa bersama, Tuhan mencurahkan kuasa dan kebangunan baru – pencurahan Roh Kudus
Murid2 Yesus dan jemaat yang mula2 menerima kuasa untuk mengadakan mujizat & tanda, mengusir roh2 jahat, menyembuhkan penyakit dan kekuatan dalam pemberitaan Injil
Kesimpulan:
Kisah Para Rasul 1:14 menunjukkan model gereja yang hidup dan berkuasa:
Gereja yang bertekun, sehati, dan berdoa bersama.
Kesatuan dalam doa membawa pencurahan Roh Kudus, keberanian untuk bersaksi, dan kebangkitan pelayanan.
Discover more from SIB Donggongon
Subscribe to get the latest posts sent to your email.